PERTANIAN BERBASIS KEARIFAN
LOKAL
Dalam pertanian tradisional, ada satu
aspek penting yang disebut sebagai Local atau Indigenous Knowledge (IK) yang
sering disebut dengan Kearifan Lokal/tradisional. Sistem kearifan lokal dalam
bidang pertanian ini merupakan suatu pengetahuan yang utuh dalam
pengembangan budaya atau kelompok etnik
tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara subsistem sesuai kondisi
lingkungan yang ada dalam kearifan masyarakat setempat, kita akan
mengetanui kebutuhan pangan mereka
tidaklah sepenuhnya bergantung pada beras. Kita mengenal istilah polo kependem
dan polo gumantung, yaitu sebagai tanaman pangan serta ditunjang dengan adanya
keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan ekosistem mereka.
Polo kependem sebagai bahan makanan yang
ditanam dan berada di dalam tanah maupun diatas tanah, tetapi jenis ini juga
bisa digunakan sebagai bahan makanan utama atau makanan pendukung seperti
berikut:
Ubi jalar, ketela pohon atau umbi, jagung, kacang tanah, uwi, gothe, tales, suweg, mbuli, mbalu, dan lain-lain. Dan dari kelompok polo gumantung kita tahu beberapa tanaman seperti sebagai berikut:
Pepaya, gori atau tewel sukun, klentang dan sebagainya.
Ubi jalar, ketela pohon atau umbi, jagung, kacang tanah, uwi, gothe, tales, suweg, mbuli, mbalu, dan lain-lain. Dan dari kelompok polo gumantung kita tahu beberapa tanaman seperti sebagai berikut:
Pepaya, gori atau tewel sukun, klentang dan sebagainya.
Kearifan lokal sebagai bentuk tradisi
masyarakat tradisional yang kini mulai terpinggirkan karena pengaruh modernitas
yang cenderung menganggap hal-hal yang tradisional selalu statis tidaklah
benar, kita tahu sendiri kearifan lokal yang tercipta dari kehidupan keseharian
masyarakat yang telah berlangsung dari generasi kegenerasi ternyata bersifat
dinamis dan selalu bisa berjalan beriringgan dengan perkembangan kemajuan
manusia itu sendiri, asalkan mereka tetap berpegang teguh pada norma, adat dan
tradisi yang ada sebagai bentuk perwujudan dari kearifan lokal itu sendiri yang
senantiasa menjaga manusia untuk dapat terus hidup selaras, serasi dan seimbang
dengan alam sekitarnya.
Padi tetap menjadi komoditas yang utama,
sedangkan jagung, umbi-umbian serta lainya adalah pendukung. Beras sudah tidak
bisa di pisahkan lagi dari kehidupan keseharian masyarakat dalam upaya
pemenuhan kebutuhan pokoknya. Walaupun beras merupakan makanan utama masih bisa
dijumpai masyarakat yang senang mengkonsumsi nasi jagung, gaplek dan aneka
umbi-umbian olahanya, sebagai bentuk konsumsi keseharian selain beras.
Masyarakat
Jawa yang masih tradisional dalam mengolah dan menjalankan bidang pertaniannya
memiliki kearifan lokal yang bisa kita coba jabarkan dengan terlebih dahulu
kita kelompokan menjadi tiga kelompok, yang nantinya akan mempermudah untuk
mengerti makna-makna yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut seperti
norma, nilai, perilaku, filosofi, filsafat. Pengelompokan kearifan lokal untuk
menjelaskan dan menggambarkan kearifan lokal di bidang pertanian adalah sebagai
berikut:
1. Kearifan lokal dalam bentuk falsafah,
wejangan, pitutur atau berupa nasehat dan cerita-cerita yang membangun dari
segi multidimensionalnya.
2. Kearifan lokal dalam bentuk perilaku,
tindakan atau aktivitas kehidupan keseharian yang mencerminkan kultur
masyarakat setempat.
3. Kearifan lokal dalam bentuk hasil cipta
manusia yang dituangkan dalam sebuah bentuk material atau fisik dan juga hasil
proses kreatif manusia yang berupa benda atau barang.
Diversifikasi tanaman pangan akan
berjalan seiring dengan kearifan lokal. Saat kearifan lokal mulai memudar maka
diversifikasi tanaman pangan juga demikian. Hal-hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor internal mulai memudarnya kearifan lokal adalah
kebutuhan, kebiasaan/perilaku,Aktivitas dalam masyarakat yang mulai
meninggalkan bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada, walaupun tidak secara
langsung dan tidak mereka sadari. Faktor eksternal adalah mulai dari pengaruh
kebijakan pertanian, teknologi baru, selera pasar yang cenderung berorientasi
pada kepraktisan dan nilai ekonomis semata dan bersifat jangka pendek. Sebuah
kearifan lokal, nilai-nilai yang terkandung didalamnya akan cenderung tetap,
tetapi hanya mengalami perubahan dalam sisi bentuknya saja. Sebuah
keanekaragaman tanaman pangan akan tetap terjaga jika kita juga tetap
mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dan tidak melupakan budaya
dan kearifan lokal yang selama ini sudah memberikan sagala sesuatu yang kita
butuhkan. Dari sekian banyak tanaman pangan yang dikembangkan masyarakat masih
ada satu lagi nilai kearifan lokal yang masih bisa tetap bertahan hingga
sekarang ini yaitu minuman kesehatan atau jamu. Jamu merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari masyarakat jawa sebagai minuman khas yang memiliki keunikan
dan kelebihan sendiri dalam membantu masyarakat terutama masyarakat yang berada
didesa untuk tetap dalam kondisi prima dalam menjalankan pengelolaan usaha
taninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar